You are currently browsing the category archive for the ‘Celoteh’ category.

khauf-makan-enak


Wednesday, 25 February 2009..
7:00 PM waktu bintaro..
di depan PC, tak sengaja, kutemukan sebuah foto..
foto yang membawaku kembali ke tahun 2007..
695 hari 19 jam 54 menit 11 detik yang lalu..
pukul 00:00..
ada kenangan dibalik sebuah foto..
foto yang membawa cerita..
sebuah pesta kecil di malam ultah khauf..
foto yang membawa cerita..
melompat waktu ke 136 hari 18 jam 30 menit 0 detik kemudian..
ketika itu, di jalan sebuah desa kecil..
ku berhadapan dengannya..
sebuah takdir Tuhan..
takdir yang membawa tanda..
masih hingga kini..
dulu ku sedih..
sekarang ku sadar..
senyum di atas rute jalan yang ku tempuh..
hikmah dibalik satu cerita hidup..
ahh..'kenangan' dibalik sebuah foto..

to be continued..

Iklan

img_00711Si Adven & Si Ture lagi ga jelas mau ngapain hari ini..bengong didalam kamar kost..mau nonton TV gak ada acara nyang bagus..mau jalan keluar gak ada tempat yang mau dituju..mau ngapain ya tu bocah2..?!? mereka kerjanya cuma diam..diam..dan diam ajah.. cekhh..cekhh..cekhh..oalaaaah..!!!



: “Shut Up!!! Do nothing Ok Tur.. heee!”

: “Husst..quiet please!..diam napa!!? *….*..mmm..Ven..kita koq ‘diam’ hari ini..biasanya kita tuh aktiv jalan2..mmm..ngapain ya??”

: “Kita Diam itu..penakut. Takut hari akan hujan..he..he..he..tuh liat langit mendung..mending melamun ajah ahh..hee..”

: “yee….Diam itu..buat kita makin tertinggal..ketinggalan kereta di stasion”

: “salah..Diam itu..terkadang lebik baik ketimbang N.A.T.O….no action talk only..isst..isst..isst.. iya kan?”

: “Ok..ok..gimana kalo: Diam itu..cuek!??..masa bodoh dia mau ngapain kek!..kemana kek!..au ah!”

: “Yaa..ya..ya..bolehlah..gimana kalo: Diam itu..misteri..***si yayang kecenganku lagi mikirin aku ga ya hari ini?”

: “Ehmm..ngapain mikirin bocah yang ga jelas!..he..he..he..canda bro!!. Diam itu terkadang lebih BIJAK ketimbang bicara..gimana?..yaa biarkan dia mengetahui jawabannya sendiri..pura2 budeg waktu dia nanyain ke aku..edan bukan?!”

: “Edan paan?!!..yg ada malah lu ditimpukin..Diam itu..sabar..seperti disinetron2 itu lho: ‘Sabar nduk..nduk..!! ‘sabar sih sabar..tapi ini udah yang ke-11 kalinya dia bla..bla..bla..ku sudah hilang kesabaran..awwwaaas yaa..#$%^&$^*$#’..” #geram

: “Udah..back to the point. Diam itu..indah..sepakat ga? Hmm..Entahlah..suatu waktu saya suka tuh saat si dia lagi diam membisu..gimana gituh!”

: “Naaa..kalo itu gue sepakat..tapi kan Diam itu..bodoh..ditanya koq ga dijawab..gue inget dia anak oon bener sih..kecenganmu itu..ya bilang dong ‘maaf..sy kurang tau’..kan enak..jelas..bisa tanya ama yang lebih tau.”

: “Wee..jangan asal tebak..mungkin dia punya maksud tertentu untuk diam. Diam itu..CERDASS…kecenganku gitu lho..”

Diam itu……………….apa ya ?!?

Pas sahur tadi sy nonton sinetron PPT di tifi..asyiknya saat ngelihat Azlul & Udin makan sebungkus nasi ber-dua, melihat hal tersebut Celsi, Barong & Juki ternyata juga ga mau kalah .. di depan Bang Jek dan Kalila, mereka pamer makan sebungkus nasi ber-tiga.. lho? lho?

 

Gggrrrhh…sy juga ga mau kalah donk..sy makannya rame-rame … TAPI ITU DUULUUUU… jaman aktif2nya di KHAUF (Komunitas Hijau Fisika), salah satu unit kegiatan di jurusan.. he..he..he !

 

Taxi, penduduk kampung Muyub menyebutnya. Padahal ia tak lain ialah kapal sungai 2 tingkat berkapasitas 100penumpang *bahkan lebih* yang membawa kami berdua (sy & Seblak) juga penumpang lainnya menyusuri sungai Mahakam dengan tujuan kota Samarinda, Kaltim (2008). Perjalanan air  saat itu ditempuh selama 17jam. Jelas sekali waktu tempuhnya, karena stopwatch sy nyalakan. Sy ingat, anak2 kecil yg berenang di pinggir sungai melambaikan tangan kompak melepas kepergian kami, saat  berada di sampan kecil Pa Ili, menuju Taxi yg menunggu di tengah sungai *maklum saat itu lagi surut, jadi kapal tidak dapat merapat ke tepi*. Sedang kegiatan yg kami lakukan di atas kapal *di lantai 2* tiada lain yaa menikmati pejalanan saja J, melihat satu demi satu kampung2 dilewati, juga dermaga2 batubara & pengolahan kayu pada kiri-kanan sungai. Mengesankan bagi sy, 1 bulan sebelumnya, di pinggir hulu Mahakam, merupakan cerita yg tidak akan sy lupakan.

 

Catatan ini bermula saat Boss di markas, pa Ikagea, memanggil sy *juga Seblak* untuk melaksanakan survei di hulu Mahakam. Bersama rekan2 kerja yg lain, briefing pun dilakukan di kantor, mempersiapkan schedule, jobdes & perlengkapan survei apa saja yg diperlukan selama di lapangan. Sy & seblak ternyata bertanggung jawab pada survei pasang-surut (pasut) sungai, sedang yg lain pada Batymetri & Arus.

 

Alhasil, sy bersama tim batimetric telah sampai ke lokasi di Kampung Muyub. Dari markas ditempuh melalui perjalanan udara, darat & air. Penduduk di lokasi kebanyakan orang Dayak, namun orang rumah tempat kami menginap ialah Bugis perantauan, kakek Japri ‘si Jendral’ sekeluarga. Perlengkapan pengukuran pasut pun di set. Kemudian ditancapkan di perairan pinggir sungai. Penancapan rambu pasut tidak boleh asal, harus mengikuti prinsip2 fisika, seperti pengaruh gaya tekan & tegangan, atas sistem rambu yg diganggu oleh arus & ombak air sungai. Data2 level air per jamnya selama 30hari kedepan dicatat & akan diolah kemudian.

 

Team pasut terdiri dari: sy, Franky (helper, penduduk lokal asal Manado), Pa Safar (helper, anaknya kakek Japri) & Seblak *yg baru datang 10hari kemudian*. Jelas kami membagi waktu jaga seefektif mungkin. Dalam mencatat level muka air tiap jamnya sepresisi mungkin merupakan pekerjaan yg susah2 gampang. Bagaimana bila ombak air lagi ga tenang akibat perahu2 sungai *bahkan Tongkang*? Bagaimana bila ada hujan besar? Bagaimana pula bila malam hari tiba *bahkan diwaktu orang lagi nyenyak2nya tidur, sekitar jam 3-5*? Walah..pokoknya team harus selalu fokus & konsentrasi deh. 1 bulan kedepan harus diambil data yg benar2 representatif…absolutely.

 

3hari pertama ialah hari2 dimana sy harus beradaptasi dengan lingkungan yg baru. Menginap di rumah kakek Japri, no listrik PLN, MCK di sungai, bersosialisasi dengan penduduk sekitar & pastinya mencari kegiatan apa aja biar ga boring, terutama saat diluar jam tugas jaga. Nah, diantaranya ialah memancing, salah satu hobi saya, sejak SMP dulu.

 

Peralatan memancing sy pinjam ke pa Ili, menantunya kakek Japri. Usianya 3tahun diatas sy & orangnya baik, ramah serta senang sekali bercerita. Beberapa pengalaman hidup beliau sy coba tarik hikmahnya, misalnya saat beliau pernah berprofesi sebagai pemanen sarang burung walet, di gua2 pedalaman Kaltim, salut!. Kita kembali ke soal memancing ya J…ikan pertama hasil pancingan ialah ikan Lancang (penduduk setempat menyebutnya), mirip seperti anak ikan Patin. Ikan ini memiliki panting/pantak yg beracun lho, jd hati2 saja saat melepas kail di mulut ikan. Alhasil pancingan dihari itu berjumlah 7ekor saja. Langsung digoreng u/ dijadikan lauk makan siang..mmm, yummy. Kegiatan memancing cukup rutin dilakukan,  pernah sy mendapatkan 21ekor ikan Lais ukuran sedang, yg saya pancing dibawah rakit2. Makin ahli saja ya si gue dalam memancing, hehe!.

 

Hari ke-4 adalah hari dimana saya melihat kawanan ikan Pesut yg bergerak ke arah hulu lagi Mahakam. Jumlahnya ada 7ekor saat itu. Ikan Pesut merupakan salah satu jenis ikan langka yg katanya di Indonesia cuma ada di sungai Mahakam saja. Sekilas ikan ini menyerupai/mirip ikan lumba2, namun hidupnya di sungai dengan aksi ‘semburan air’ pada ubun2 kepalanya, yg periodik seiring pergerakannya di permukaan air. Langsung sy kabarkan hal ini kepada Seblak, sohib sy itu. Dan dia semakin penasaran saja..haha J. Ikan ini dilindungi negara, bahkan merupakan salah satu ikan yg penduduk setempat tidak boleh memburu ataupun memakannya.

 

Pada hari ke-10 pengukuran, Seblak bersama rekan team Arus datang ke lokasi, sedang team Batymetri telah pulang kembali ke Markas seusai akuisisi. Wah..kawan seperjuangan dikampusku dahulu datang juga J. Dia langsung bergabung dengan team Pasut seusai membantu team Arus dalam akuisisi selama 2 hari, yg kemudian team Arus tersebut pun pulang, sedang Seblak tinggal di lokasi.

 

Hari2 selanjutnya di lokasi sudah seperti di kampung sendiri *bahkan juga bagi si Seblak??*. Ternyata si Seblak mendapat kesempatan juga melihat kawanan ikan Pesut!!, 1-1 deh. Namun pernah disuatu hari, betapa mirisnya hati ini melihat regu polisiair yg merazia & akhirnya menerima ‘uang damai’ dari penduduk kampung ‘atas hanya 6kubik saja’ kayu Ulin ilegal u/ keperluan pembangunan Masjid di pinggir sungai dekat lokasi. Padahal semua penduduk kampung tahu *bahkan juga mereka* bahwa untuk mendapatkan kayu Ulin sangat susah sekali membelinya secara legal, satu2nya jalan ialah melalui penduduk kampung yg bersedia menginap berhari2, menebangnya jauh di pedalaman hutan Kaltim, kebayangkan capeknya!!. Kalau kayu ilegal dalam level skala industri *ribuan kubik* mungkin sudah wajar ya mereka dapet ‘uang damai’? Tanya Kenapa?!?.

 

Hari ke-15 adalah hari dimana sungai mahakam di lokasi Pasut meluap alias banjir. Selidik2 punya selidik, banjir ini disebabkan oleh hujan besar berhari2 sebelumnya di sebelah hulunya lagi Mahakam, sementara pepohonan hutan disana sudah tidak dapat menyerap air hujan dengan sempurna akibat gundul. Bagaimanapun juga, pengukuran pasut harus tetap dilakukan. Sy dkk segera membuat rambu pasut tambahan dari meteran biasa. Alhasil kenaikan level air yg mendadak setinggi 3m dari biasanya bisa “diakomodir” oleh rambu tambahan ini.

 

Hari2 selanjutnya sy dkk lalui seperti biasanya, tetapi dengan cerita & kejadian yg berbeda pula, misalnya pada saat sy tidur2an di atas hammuck pribadi (ayunan gantung, dari bahan kain bukan jaring) yg diikat diantara 2batang pohon di pinggir sungai u/ menikmati semilir angin sore sambil mengecek kondisi rambu & level air saat alarm jam jaga berbunyi *gubrakk..panjang bener kalimatnya*. Atau pada saat dimana terdapat semacam pasar malam kecil2an *tiap malam minggu* yg cukup rame dikunjungi penduduk lokal yg jauh dari peradaban kota besar…wiiihh, so interesting. Hingga pada hari ke-29, adalah hari dimana sy & Seblak mulai bersiap2 membereskan segala perlengkapan pribadi & perlengkapan survei (kecuali rambu pasut). Hal ini dilakukan biar keesokan harinya kami tinggal berangkat pulang ke markas saja, tidak direpotkan lagi dalam mengemas barang2.

 

Finally, the day of the last Pasut acquisition was coming. Saat itu tepat jam 5sore, kebetulan bersamaan pula dengan jadwal Taxi sungai singgah di kampung Muyub. Sy & seblak pun berpamitan dengan helper local, penduduk dekat lokasi, & sanak keluarga si kakek Jendral Japri *memang pantas beliau sy juluki ‘si jendral’ atas perawakannya yg gagah, bijak & tegas, berikut pengalaman suka-duka mengarungi hidup sejak beliau masih muda, serta menafkahi keluarga sebagai: pemburu buaya, nelayan, kepala kampung, dll, hihi, salut!*. Selanjutnya kami berada di sampan pa Ili, bergerak menuju Taxi yg menunggu ditengah sungai. Sebelumnya beberapa perlengkapan survei pun kami berikan kepada sanak keluarga si Jedral sebagai oleh2, diantaranya: senter, tali tambang, payung, dll. Seperti yg sy kemukakan di awal bahwa:

“1 bulan di hulu Mahakam setidaknya memiliki catatan cerita perjalanan unforgetable, yaa ini itu !!. Thanks God J.

 

NB: 2 hal yg masih misteri bagi sy, 1] Adanya mitos Naga Hitam disana?? & 2] Sungai Mahakam adalah sungai purba??…. I wonder/penasaran J

Merambah indah pesona-Mu. Langkahi tilas tapak kemarin lalu. Pijak terukir mengalir. Keringat balur bercucur. Tak lelah henti bersimbah. Jatuh basahi rumput kering. Sambil keteguk air cinta. Senangnya… . Lalu remang kuterobos, juga gelap kunanti. Hingga terhalang dingin canda angin.

Disisi mungilnya perapian. Yang berteman liar semak belukar.

SUARA ITU LAGI..!, Merintik sepi, sunyi, hilang di kegelapan. Tak bosan mengiringi si Petualang. Sampai ia terdiam bisu. Oleh gagahnya surya…berharap dan menanti.

Ketika itu, di pangkal pintu angin. Ia terbawa awan. Dan kabarkan ke tiap pelosok bumi. Bravo rimbaku..tetap lestari dirimu. (T-041/KHAUF)

…before

Pagi tlah tiba. Domme2 pun dibongkar kembali, beres2 dilakukan. Oia, dari awal sy belum memperkenalkan team dokumentasi nih. Sebutlah Si Odoy sebagai Host_nya & Si Ijal sebagai kameramen_nya. Kedua kawan sy tersebut cukup apik&focus menjalankan tugasnya *maklum rada berbakat sedikit..hihi*.

Pengukuran & dokumentasi terus dilakukan selama pendakian. Jam2 berlalu, mendekati puncak, mulai terlihat tumpukan bebatuan di kiri kanan jalur, cukup menambah nuansa chalenging pendakian. Adakalanya mata kita harus jeli saa menyusuri pinggir jurang di sebelah kiri jalur. Di lokasi yg dinilai representatif, team mengambil sampel batuannya. Seiring kaki terus melankah, tak terasa tibalah kami di puncak Tampomas. Kala itu jam menunjukkan pukul 5 sore. Cuaca tidak bersahabat. Angin yang kencang *badai tepatnya* & kabut merepotkan team untuk orientaring. Biar terlindung, akhirnya camp ditempatkan di shelter pepohonan tak jauh dari puncak.

Kali ini difokuskan pengukuran parameter cuaca hanya di puncak tampomas. Ngukurnya tiap 1 jam sekali. Saat kawan2 yg laen udah pada tidur, adakalanya pengukuran kebablasan *pas tugas jaga ketiduran euy, waduh..bahaya nih*, saya catat data seadanya saja J. Akhirnya mentari pagi muncul, kawan2 semua pada bangun. Sebuah momen yang tidak disia2kan, dengan segelas air teh hangat, sebatang rokok, benar2 sy nikmati pagi itu. Sementara cuaca kali ini cukup bersahabat, pengukuran parameter cuaca berakhir, yang kemudian dialihkan pengukurannya saat team berada didalam rekahan nanti *oleh dini dkk*. Team (Seblak, Kipli, Dayat, Moko dkk) mulai menuruni rekahan, mengivestigasi seluruh lokasi semampunya. Kegiatan dimulai dengan pemasangan angkor dibibir rekahan berikut prosedur2 safety lainnya. Sampel batuan pun diambil di beberapa tempat. Sedangkan sy sendiri saat itu beristirahat sambil membantu persiapan makan siang nanti bersama Mr. Zengedeg. Rekahan yang berbentuk menyerupai lorong dipenuhi banyak kelelawar. Kotoran berserakan dimana2 menimbulkan bau seperti belerang *kata anak2 sih gt*. Akhirnya jam makan siang pun tiba. Seluruh anggota team makan bareng tentunya. Barulah setelah itu investigasi dilanjutkan kembali.

Data & sampel telah didapat. Sore itu, akhirnya investigasi selesai dilakukan. Kami berkumpul mengevaluasi seluruh logistik yg dibawa. Ternyata perbekalan air minum menipis *padahal rencananya masih ingin 1 hari lagi*. Mengingat urgentnya tenggat waktu saat itu, diputuskan team agar segera kembali ke shelter x, dimana sumber air berada. Perjalanan pulang/penurunan dimulai, secepat mungkin *tak seperti biasanya* tibalah kami di shelter x pada jam 6 sore…wow rekor!.

Seperti yg diperkirakan, team II KHAUF (asri , erika, echi & akaw) ternyata sudah berada dan menyambut kami di lokasi shelter. Akaw dengan cekatan telah mempersiapkan kayu bakar buat perapian nanti malam *api unggun kali ini kayanya manteb nih*. Anggota team semakin rame saja. Berhubung jobdes team hanya tinggal survei awal mata air panas saja, jadi malam itupun dihabiskan untuk bersuka-ria, bergembira. Genjrengan gitar okulele odoy yg kocak menambah hiruk-pikuk suasana. Tidak lupa juga beberapa kawan ada yg sholat *ada yg ngga*. Malam semakin larut & kawan2 pun beristirahat.

Keesokan paginya, seusai sarapan seluruh anggota team beristirahat sejenak, barulah kemudian beres2 perlengkapan. Wah..baru pd saat itu yang namanya capek & pegel mulai terasa di otot2 persendian. Tapi untunglah kali ini medan yang ditempuh ialah turunan, jadi agak ringan. Briefing sebentar & let’s go, perjalanan dilanjutkan. 3 jam berlalu, sampailah kami di bumi perkemahan di kaki gunung. Berhubung masih jam 12 siang jadi kami sempatkan untuk jalan2 refreshing dahulu di sana. Dan direncanakan untuk berangkat survey ke lokasi mata air hangat saat di rumah kang Kecrek saja.

Survey awal potensi geothermal pd mata air hangat yang mengandung belerang (lokasinya di desa Narimbang, tak jauh dari rumah kang Kecrek) dilakukan tidak seperti teori dibuku2, melainkan hanya sebatas survey pendahuluan yg singkat sekali. Uniknya pada mata air hangat tersebut di kelilingi area persawahan penduduk. Bahkan tak jauh dari lokasi (sekitar 30m) juga terdapat mata air biasa. Survei dilakukan (oleh Asri dkk) dengan hanya mengambil sample air, sample batuannya, temperature dan dokumentasi lokasi both mata air hangat & mata air biasa. Terpikir oleh kami, alat thermograph bisa digunakan di kemudian hari, juga instrument geolistrik bisa. Setidaknya kami bisa membuat semacam laporan awal sebagai rekomendasi penelitian lebih lanjut nantinya.

Alhasil, semua jobdes telah kami lakukan semaksimal mungkin. Segera kami kembali pulang menuju kampus, membawa data & sample untuk dianalisis di laboratorium yang kemudian dilaporkan pada Kuliah Umum *ala KHAUF* 1 bulan kemudian. Dan hari itu pun akhirnya tiba. Pemateri yg diundang ialah Pa Isya ND (pakar pusat vulkanologi & mitigasi bencana geologi) & Ibu Utari (dosen Fisika UPI). Sayang sekali sy & Seblak tidak dapat menghadiri acara tersebut karna pada saat itu kami sedang melakukan survey di sungai Mahakam, biarlah catatan perjalanan menjadi saksi atas secuil petualangan di muka bumi…Viva KHAUF!—Jhappy endingJ

-up to date-

investigasi-di-terowongan-kawah-tampomas

Bermula pada misi almamater organisasi, untuk memperbanyak jam terbang para anggotanya, berpetualang mendaki gunung sambil belajar memahami beberapa fenomena ilmiah warna-warni bumi kita. 1 tahun sebelumnya sy & kawan2 pernah ke sana merayakan munggahan puasa di puncak gunung tampomas. Seingat sy dulu, pendakian tampomas sangat menarik. Di kaki gunung terdapat bumi perkemahan dengan curugnya yang indah, jalur pendakian di dekat puncak dikelilingi tumpukan bebatuan yang diselingi lembabnya pepohonan & semak-belukar rimba, serta uniknya lagi terdapat rekahan sedalam sekitar 8-10m & selebar +/- 2m yang memanjang di puncak gunung yang masih liar belum terjamah *mungkin skitar 150-an meter ya..i guessing*. Apalagi di puncak juga terdapat semacam makam yg dipercaya penduduk setempat ialah makam Prabu Siliwangi?, yg menjadikan Tampomas jg merupakan tempat ziarah yg cukup popular.

 

Alhasil 1 tahun berlalu. Rapat yang dipimpin oleh pa Hidayat *ketum saat itu* memutuskan u/ melakukan ekspedisi pendakian ke puncak gunung Tampomas, Sumedang-Jawa Barat. Dan juga dilakukanlah semacam ekspedisi sains yang dalam hal ini kami batasi pada: investigasi & identifikasi batuan rekahan, pengukuran parameter cuaca selama pendakian, serta survey awal potensi geothermal (mata air hangat) di kaki gunung. Hemat sy & kawan2, teknis & analisis sainsnya sepertinya bakalan ribet, tetapi yang namanya belajar jelas semua ada awal+prosesnya…jadi, maju terusss!.

 

Seperti biasa, persiapan pun dilakukan sekitar 1 bulan sebelum keberangkatan. Mulai dari schedule acara, donatur, alat2 survey, latihan fisik, survey awal team, akomodasi-konsumsi dan tetek-bengek lainnya. Anggota team yang berminat ikut serta relatif banyak. Saya memilih masuk team akuisisi parameter cuaca *waktu itu sidang TA sy udah, tp lom wisuda*, soalnya cukup ‘nyante tp pasti’ J itung2 refreshing pasca sidangTA..he..he..he. Minggu2 berlalu, tak terasa sudah semakin dekat hari H. Team survey awal, Akaw & si Zebod & si Mbok, telah melaporkan kondisi update tampomas, kawan2 team peralatan sudah mulai mengumpulkan apa yang harus dibwa nanti, dan saya sendiri bersama rekan team (Dini, Asri, Echi & Sindy *lho..ko ce semua ya*) masih sibuk belajar & ngumpulin semua referensi yg berkaitan dengan parameter cuaca biar cepet nyambungnya saat akuisisi nanti. Rencananya pada pengukuran parameter nanti akan digunakan thermograph, namun dibatalkan karena alasan teknis. Sehingga yang dibawa hanyalah: Altimeter, Thermometer celcius biasa, Portable (barometer-thermometer-hygrometer) digital & Portable Hygrometer berputar *entah apa namanya sy lupa*.

 

Hari telah tiba. Didepan kampus digelar acara keberangkatan team ekspedisi. Sy menggunakan atribut lapangan lengkap ala gue (Daipek 45L, matras, sleepingbag, celana lapangan, syal biru, bandana merah, sendal gunung & baju lapangan warna merah kesukaan…haha). Perjalanan dimulai, alhasil, kami telah tiba di kaki gunung. Kala itu sore2 adanya. Kami memutuskan bermalam di salah satu rumah penduduk, kang Kecrek namanya, sesepuh karang taruna, orang yg baik hati juga ramah & senang sekali bercanda. Penggalian informasi sejarah Tampomas, salah satu agenda acara, kami tanyakan kepada beliau. Sementara saat itu sy dkk sendiri segera starting pengukuran di kaki gunung, mengisi rancangan worksheet & koordinasi team saat pengukuran kedepannya.

 

Yang namanya barudak khauf, sejak sy bergabung 4 tahun yang lalu, senang sekali heurei & solid pastinya. Itu yg membuat sy tidak merasa kesepian merantau di Bandung. Kawan2 sudah seperti sodara sendiri. Pada ekspedisi kali ini tentunya rame, candaan, capek, senang, manja, ada yg ngambek, bercampur baur mengisi catatan cerita. Sebutlah si anu yg maunya bawa yg ringan2…hahaha, asyik ya ngelihat & ngladeninya J.   

 

Pendakian dimulai, jam meunjukkan pukul 13.30 WIB, kang Kecrek ikut. Untuk kegiatan pengukuran parameter cuaca, sy & dini rancang setiap 1 jam perjalanan. Diasumsikan dengan kec pendakian & kemiringan jalur konstan, cukup mewakili tiap2 ketinggian *tak diduga sebelumnya, ternyata altimeternya rusak, sedang GPS ga dapet pinjeman*.

 

Anyway..saat ‘senja’ mengufuk di Barat, Team bermalam di lereng *shelter X*. Kebetulan tempatnya strategis, ada sumber air disana. Dan dengan landscape sinar2 lampu kota sumedang di kejauhan serta diselingi aroma pepohonan pinus yg menggoda, terdapat saung kecil disana, lumayan buat santai2 sambil menyalakan perapian malam.

 

Untuk tidur sy bawa tenda domme pribadi, jadi lebih leluasa, tinggal ajak partner satu, jadi lebih hangat suasana, yeah. Tapi sebelum beristirahat..makan dulu ala PA yangmana team konsumsi berperan dalam hal ini. Untuk kawan2 team investigasi rekahan (Seblak dkk), terlihat capeknya, mungkin karena carrier yg berat berisi peralatan panjat untuk menuruni rekahan nanti, maklum alatnya cukup banyak, biar safety *padahal praktiknya belum tuh..hehehe*. Sebelum tidur juga kami lakukan pengukuran kec.gravitasi “bandul sederhana” berikut pengukuran nilai temperatur lingkungan akibat panas api unggun sebagai fungsi jarak *Ceileh…gaya*.

 

Bersambung ke…  Catatan perjalanan: Ekspedisi Tampomas KHAUF (part.2)

Sadarkah kalian? sewaktu berpetualang di alam liar telah membuang sampah plastik/beling/kaleng seenaknya??

Sadarkah kalian bahwa perlu waktu puluhan tahun untuk mengurai sampah plastik secara alami??apalagi beling?? Lucu ya! Senang?

Juga sadarkah kalian untuk bakal tunas yg mati akibat diinjak-injak oleh manusia berengsek yg menerobos hutan alam??

Oh..kawan! Sudahkah menebus dosa atas ribuan langkah kaki si perusak hutan? Dirimu? Jangan dijawab! ga perlu jawaban, tp tindakan!!! yg menyuplai Oksigen untuk kita bernafas ditengah pengapnya kota! yg menyerap air hujan untuk stok air tanah! hingga akhirnya dimanfaatkan kita juga untuk minum! Sadarkah?? Sy hanya sosok kecil tak bernyali, juga sy hanya sosok sombong jago berkoar, apalagi sy hanya penikmat bukan pelopor, sedang sy hanya makhluk bodoh tak berpengetahuan. Namun TEEENTUU sy ingat mimpi sang ibu pertiwi: 1 diinjak, 10 ditanam…hingga tumbuhlah ia ribuan tunas, selamatkan & sejukkan bumi kita. Viva…lestarikan hutan INDONESIA, cukup kita yg tau & Tuhan yg Maha-Melihat. (t-014/khauf)

 

 

Just: A SYAFRAN EKASAPTA

Progress

yang nge_lirik

website stats

Bila anda tidak menemukan apa yg hendak dicari, manfaatkan menu SEARCH berikut, dengan keyword yg tepat.

RSS kompas >> Sains

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

catatan hari ini…!

" ........... tetap 'fokus' pada impian-impian & evaluasi diri!!!! ..............."
Support Palestine

RSS physicist-job

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS info beasiswa – s1 s2 s3

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

sejenak listen to the music