Taxi, penduduk kampung Muyub menyebutnya. Padahal ia tak lain ialah kapal sungai 2 tingkat berkapasitas 100penumpang *bahkan lebih* yang membawa kami berdua (sy & Seblak) juga penumpang lainnya menyusuri sungai Mahakam dengan tujuan kota Samarinda, Kaltim (2008). Perjalanan air  saat itu ditempuh selama 17jam. Jelas sekali waktu tempuhnya, karena stopwatch sy nyalakan. Sy ingat, anak2 kecil yg berenang di pinggir sungai melambaikan tangan kompak melepas kepergian kami, saat  berada di sampan kecil Pa Ili, menuju Taxi yg menunggu di tengah sungai *maklum saat itu lagi surut, jadi kapal tidak dapat merapat ke tepi*. Sedang kegiatan yg kami lakukan di atas kapal *di lantai 2* tiada lain yaa menikmati pejalanan saja J, melihat satu demi satu kampung2 dilewati, juga dermaga2 batubara & pengolahan kayu pada kiri-kanan sungai. Mengesankan bagi sy, 1 bulan sebelumnya, di pinggir hulu Mahakam, merupakan cerita yg tidak akan sy lupakan.

 

Catatan ini bermula saat Boss di markas, pa Ikagea, memanggil sy *juga Seblak* untuk melaksanakan survei di hulu Mahakam. Bersama rekan2 kerja yg lain, briefing pun dilakukan di kantor, mempersiapkan schedule, jobdes & perlengkapan survei apa saja yg diperlukan selama di lapangan. Sy & seblak ternyata bertanggung jawab pada survei pasang-surut (pasut) sungai, sedang yg lain pada Batymetri & Arus.

 

Alhasil, sy bersama tim batimetric telah sampai ke lokasi di Kampung Muyub. Dari markas ditempuh melalui perjalanan udara, darat & air. Penduduk di lokasi kebanyakan orang Dayak, namun orang rumah tempat kami menginap ialah Bugis perantauan, kakek Japri ‘si Jendral’ sekeluarga. Perlengkapan pengukuran pasut pun di set. Kemudian ditancapkan di perairan pinggir sungai. Penancapan rambu pasut tidak boleh asal, harus mengikuti prinsip2 fisika, seperti pengaruh gaya tekan & tegangan, atas sistem rambu yg diganggu oleh arus & ombak air sungai. Data2 level air per jamnya selama 30hari kedepan dicatat & akan diolah kemudian.

 

Team pasut terdiri dari: sy, Franky (helper, penduduk lokal asal Manado), Pa Safar (helper, anaknya kakek Japri) & Seblak *yg baru datang 10hari kemudian*. Jelas kami membagi waktu jaga seefektif mungkin. Dalam mencatat level muka air tiap jamnya sepresisi mungkin merupakan pekerjaan yg susah2 gampang. Bagaimana bila ombak air lagi ga tenang akibat perahu2 sungai *bahkan Tongkang*? Bagaimana bila ada hujan besar? Bagaimana pula bila malam hari tiba *bahkan diwaktu orang lagi nyenyak2nya tidur, sekitar jam 3-5*? Walah..pokoknya team harus selalu fokus & konsentrasi deh. 1 bulan kedepan harus diambil data yg benar2 representatif…absolutely.

 

3hari pertama ialah hari2 dimana sy harus beradaptasi dengan lingkungan yg baru. Menginap di rumah kakek Japri, no listrik PLN, MCK di sungai, bersosialisasi dengan penduduk sekitar & pastinya mencari kegiatan apa aja biar ga boring, terutama saat diluar jam tugas jaga. Nah, diantaranya ialah memancing, salah satu hobi saya, sejak SMP dulu.

 

Peralatan memancing sy pinjam ke pa Ili, menantunya kakek Japri. Usianya 3tahun diatas sy & orangnya baik, ramah serta senang sekali bercerita. Beberapa pengalaman hidup beliau sy coba tarik hikmahnya, misalnya saat beliau pernah berprofesi sebagai pemanen sarang burung walet, di gua2 pedalaman Kaltim, salut!. Kita kembali ke soal memancing ya J…ikan pertama hasil pancingan ialah ikan Lancang (penduduk setempat menyebutnya), mirip seperti anak ikan Patin. Ikan ini memiliki panting/pantak yg beracun lho, jd hati2 saja saat melepas kail di mulut ikan. Alhasil pancingan dihari itu berjumlah 7ekor saja. Langsung digoreng u/ dijadikan lauk makan siang..mmm, yummy. Kegiatan memancing cukup rutin dilakukan,  pernah sy mendapatkan 21ekor ikan Lais ukuran sedang, yg saya pancing dibawah rakit2. Makin ahli saja ya si gue dalam memancing, hehe!.

 

Hari ke-4 adalah hari dimana saya melihat kawanan ikan Pesut yg bergerak ke arah hulu lagi Mahakam. Jumlahnya ada 7ekor saat itu. Ikan Pesut merupakan salah satu jenis ikan langka yg katanya di Indonesia cuma ada di sungai Mahakam saja. Sekilas ikan ini menyerupai/mirip ikan lumba2, namun hidupnya di sungai dengan aksi ‘semburan air’ pada ubun2 kepalanya, yg periodik seiring pergerakannya di permukaan air. Langsung sy kabarkan hal ini kepada Seblak, sohib sy itu. Dan dia semakin penasaran saja..haha J. Ikan ini dilindungi negara, bahkan merupakan salah satu ikan yg penduduk setempat tidak boleh memburu ataupun memakannya.

 

Pada hari ke-10 pengukuran, Seblak bersama rekan team Arus datang ke lokasi, sedang team Batymetri telah pulang kembali ke Markas seusai akuisisi. Wah..kawan seperjuangan dikampusku dahulu datang juga J. Dia langsung bergabung dengan team Pasut seusai membantu team Arus dalam akuisisi selama 2 hari, yg kemudian team Arus tersebut pun pulang, sedang Seblak tinggal di lokasi.

 

Hari2 selanjutnya di lokasi sudah seperti di kampung sendiri *bahkan juga bagi si Seblak??*. Ternyata si Seblak mendapat kesempatan juga melihat kawanan ikan Pesut!!, 1-1 deh. Namun pernah disuatu hari, betapa mirisnya hati ini melihat regu polisiair yg merazia & akhirnya menerima ‘uang damai’ dari penduduk kampung ‘atas hanya 6kubik saja’ kayu Ulin ilegal u/ keperluan pembangunan Masjid di pinggir sungai dekat lokasi. Padahal semua penduduk kampung tahu *bahkan juga mereka* bahwa untuk mendapatkan kayu Ulin sangat susah sekali membelinya secara legal, satu2nya jalan ialah melalui penduduk kampung yg bersedia menginap berhari2, menebangnya jauh di pedalaman hutan Kaltim, kebayangkan capeknya!!. Kalau kayu ilegal dalam level skala industri *ribuan kubik* mungkin sudah wajar ya mereka dapet ‘uang damai’? Tanya Kenapa?!?.

 

Hari ke-15 adalah hari dimana sungai mahakam di lokasi Pasut meluap alias banjir. Selidik2 punya selidik, banjir ini disebabkan oleh hujan besar berhari2 sebelumnya di sebelah hulunya lagi Mahakam, sementara pepohonan hutan disana sudah tidak dapat menyerap air hujan dengan sempurna akibat gundul. Bagaimanapun juga, pengukuran pasut harus tetap dilakukan. Sy dkk segera membuat rambu pasut tambahan dari meteran biasa. Alhasil kenaikan level air yg mendadak setinggi 3m dari biasanya bisa “diakomodir” oleh rambu tambahan ini.

 

Hari2 selanjutnya sy dkk lalui seperti biasanya, tetapi dengan cerita & kejadian yg berbeda pula, misalnya pada saat sy tidur2an di atas hammuck pribadi (ayunan gantung, dari bahan kain bukan jaring) yg diikat diantara 2batang pohon di pinggir sungai u/ menikmati semilir angin sore sambil mengecek kondisi rambu & level air saat alarm jam jaga berbunyi *gubrakk..panjang bener kalimatnya*. Atau pada saat dimana terdapat semacam pasar malam kecil2an *tiap malam minggu* yg cukup rame dikunjungi penduduk lokal yg jauh dari peradaban kota besar…wiiihh, so interesting. Hingga pada hari ke-29, adalah hari dimana sy & Seblak mulai bersiap2 membereskan segala perlengkapan pribadi & perlengkapan survei (kecuali rambu pasut). Hal ini dilakukan biar keesokan harinya kami tinggal berangkat pulang ke markas saja, tidak direpotkan lagi dalam mengemas barang2.

 

Finally, the day of the last Pasut acquisition was coming. Saat itu tepat jam 5sore, kebetulan bersamaan pula dengan jadwal Taxi sungai singgah di kampung Muyub. Sy & seblak pun berpamitan dengan helper local, penduduk dekat lokasi, & sanak keluarga si kakek Jendral Japri *memang pantas beliau sy juluki ‘si jendral’ atas perawakannya yg gagah, bijak & tegas, berikut pengalaman suka-duka mengarungi hidup sejak beliau masih muda, serta menafkahi keluarga sebagai: pemburu buaya, nelayan, kepala kampung, dll, hihi, salut!*. Selanjutnya kami berada di sampan pa Ili, bergerak menuju Taxi yg menunggu ditengah sungai. Sebelumnya beberapa perlengkapan survei pun kami berikan kepada sanak keluarga si Jedral sebagai oleh2, diantaranya: senter, tali tambang, payung, dll. Seperti yg sy kemukakan di awal bahwa:

“1 bulan di hulu Mahakam setidaknya memiliki catatan cerita perjalanan unforgetable, yaa ini itu !!. Thanks God J.

 

NB: 2 hal yg masih misteri bagi sy, 1] Adanya mitos Naga Hitam disana?? & 2] Sungai Mahakam adalah sungai purba??…. I wonder/penasaran J