Dalam survei seismik, suatu trace seismik yang ideal mestinya hanya berisi signal data yaitu sederetan spike TWT yang berkaitan dengan reflektor di dalam bumi. Namun pada kenyataannya dalam trace seismik tersebut juga terdapat noise. Analisis trace diperlukan untuk mengindentifikasi signal dan noise dalam gather.

Signal merupakan data yang kita harapkan dalam trace seismik yang berisi informasi reflektifitas lapisan bumi sedangkan noise dalam trace seismik merupakan sinyal atau gangguan yang tidak diinginkan. Pengamatan yang cermat sangat diperlukan dalam tahap analisis trace, misalnya dengan menduga adanya daerah kemenerusan event refleksi (reflektor) pada trace gather, amplitudo sinyal seismik dan polaritas pada setiap trace. Polaritas pulsa terpantul memiliki koefesien refleksi (R) antara -1 dan +1. Bila R = 0, berarti tidak terjadi pemantulan.

Secara garis besar noise dapat dikategorikan menjadi dua, yakni koheren dan inkoheren. Noise koheren memiliki pola keteraturan dari trace ke trace sementara noise inkoheren/acak/random terdiri dari noise-noise yang tidak memiliki pola teratur. Random noise biasanya mempunyai frekuensi yang lebih tinggi dan fasanya tidak sama sedangkan pada noise koheren frekuensi dan fasanya sama dengan sinyal seismik.

Noise yang biasanya ditemui dalam trace gather antara lain sebagaiberikut.

1] Direct wave, yaitu gelombang yang langsung merambat dari sumber getar ke receiver tanpa mengalami  peristiwa refleksi.

2] Gelombang bias/refraksi, yaitu noise koheren di daerah first arrival.

3] Noise reflected refraction.

4] Ground-roll. Noise koheren berfrekuensi rendah sering dijumpai pada data darat.

5] Noise electro-static. Trace yang mengandung noise ini biasanya berfrekuensi tinggi.

6] Noise cable. Linier dan rendah amplitudo dan frekuensinya.

7] Multipel. Multipel adalah noise koheren dimana event seismik  mengalami lebih dari satu kali refleksi  dari posisi reflektor primernya. “Multples are secondary reflections with interbed or intrabed raypaths” (Yilmaz, O., 1987).

8] Multiple reflected refraction.

9] Water bottom multiple. Noise jenis ini diakibatkan oleh rambatan pulsa dari air gun ke bawah dimana sebagian energi pulsanya akan dipantulkan ke atas oleh dasar air dan kemudian dipantulkan lagi ke bawah oleh permukaan air dan seterusnya (terreverberasi). Bidang batas antara udara-air merupakan reflektor yang hampir sempurna, sehingga dapat dianggap koefesien refleksinya -1 (Sismanto, 1996). Hal ini memberi peluang besar terjadinya multiple di dalam medium air, maka dari itu noise jenis ini sering dijumpai pada data laut.

10] Noise reverse polarity, yaitu pembalikan polaritas trace seismik yang disebabkan oleh kesalahan penyambungan konektor pada kanal detektor.

11] Slash, yaitu gangguan pada trace seismik yang disebabkan oleh konektor antar kabel yang kurang baik.

12] Noise instrumen, yaitu noise yang muncul karena kerusakan kanal selama akuisisi berlangsung.

13] Etc noise…

Analisis noise dalam data seismik menyebabkan perlunya dilakukan muting atau killing dalam suatu trace gather. Killing adalah menghilangkan atau membuang trace-trace yang rusak/mati dan trace yang mempunyai noise yang tinggi dengan cara memberikan nilai nol pada matrik trace tersebut sementara muting adalah proses memotong atau menghilangkan sebagian suatu trace seismik yang mengandung noise merusak data.

Reference: disarikan dari berbagai sumber.. :P terimakasih khususnya kpd mas Azman, mas Yilmaz, mas Awali, mas Sismanto & mas I Ketut G atas karya2nya yg aduhai!!

Baca juga: Kategori Arsip ALL ABOUT SEISMIC

integrated article..
processing & analisis on Geowave Technology, PT:

Geological, Geophysical & Reservoir Analysis for Hydrocarbon Services*