…before

Pagi tlah tiba. Domme2 pun dibongkar kembali, beres2 dilakukan. Oia, dari awal sy belum memperkenalkan team dokumentasi nih. Sebutlah Si Odoy sebagai Host_nya & Si Ijal sebagai kameramen_nya. Kedua kawan sy tersebut cukup apik&focus menjalankan tugasnya *maklum rada berbakat sedikit..hihi*.

Pengukuran & dokumentasi terus dilakukan selama pendakian. Jam2 berlalu, mendekati puncak, mulai terlihat tumpukan bebatuan di kiri kanan jalur, cukup menambah nuansa chalenging pendakian. Adakalanya mata kita harus jeli saa menyusuri pinggir jurang di sebelah kiri jalur. Di lokasi yg dinilai representatif, team mengambil sampel batuannya. Seiring kaki terus melankah, tak terasa tibalah kami di puncak Tampomas. Kala itu jam menunjukkan pukul 5 sore. Cuaca tidak bersahabat. Angin yang kencang *badai tepatnya* & kabut merepotkan team untuk orientaring. Biar terlindung, akhirnya camp ditempatkan di shelter pepohonan tak jauh dari puncak.

Kali ini difokuskan pengukuran parameter cuaca hanya di puncak tampomas. Ngukurnya tiap 1 jam sekali. Saat kawan2 yg laen udah pada tidur, adakalanya pengukuran kebablasan *pas tugas jaga ketiduran euy, waduh..bahaya nih*, saya catat data seadanya saja J. Akhirnya mentari pagi muncul, kawan2 semua pada bangun. Sebuah momen yang tidak disia2kan, dengan segelas air teh hangat, sebatang rokok, benar2 sy nikmati pagi itu. Sementara cuaca kali ini cukup bersahabat, pengukuran parameter cuaca berakhir, yang kemudian dialihkan pengukurannya saat team berada didalam rekahan nanti *oleh dini dkk*. Team (Seblak, Kipli, Dayat, Moko dkk) mulai menuruni rekahan, mengivestigasi seluruh lokasi semampunya. Kegiatan dimulai dengan pemasangan angkor dibibir rekahan berikut prosedur2 safety lainnya. Sampel batuan pun diambil di beberapa tempat. Sedangkan sy sendiri saat itu beristirahat sambil membantu persiapan makan siang nanti bersama Mr. Zengedeg. Rekahan yang berbentuk menyerupai lorong dipenuhi banyak kelelawar. Kotoran berserakan dimana2 menimbulkan bau seperti belerang *kata anak2 sih gt*. Akhirnya jam makan siang pun tiba. Seluruh anggota team makan bareng tentunya. Barulah setelah itu investigasi dilanjutkan kembali.

Data & sampel telah didapat. Sore itu, akhirnya investigasi selesai dilakukan. Kami berkumpul mengevaluasi seluruh logistik yg dibawa. Ternyata perbekalan air minum menipis *padahal rencananya masih ingin 1 hari lagi*. Mengingat urgentnya tenggat waktu saat itu, diputuskan team agar segera kembali ke shelter x, dimana sumber air berada. Perjalanan pulang/penurunan dimulai, secepat mungkin *tak seperti biasanya* tibalah kami di shelter x pada jam 6 sore…wow rekor!.

Seperti yg diperkirakan, team II KHAUF (asri , erika, echi & akaw) ternyata sudah berada dan menyambut kami di lokasi shelter. Akaw dengan cekatan telah mempersiapkan kayu bakar buat perapian nanti malam *api unggun kali ini kayanya manteb nih*. Anggota team semakin rame saja. Berhubung jobdes team hanya tinggal survei awal mata air panas saja, jadi malam itupun dihabiskan untuk bersuka-ria, bergembira. Genjrengan gitar okulele odoy yg kocak menambah hiruk-pikuk suasana. Tidak lupa juga beberapa kawan ada yg sholat *ada yg ngga*. Malam semakin larut & kawan2 pun beristirahat.

Keesokan paginya, seusai sarapan seluruh anggota team beristirahat sejenak, barulah kemudian beres2 perlengkapan. Wah..baru pd saat itu yang namanya capek & pegel mulai terasa di otot2 persendian. Tapi untunglah kali ini medan yang ditempuh ialah turunan, jadi agak ringan. Briefing sebentar & let’s go, perjalanan dilanjutkan. 3 jam berlalu, sampailah kami di bumi perkemahan di kaki gunung. Berhubung masih jam 12 siang jadi kami sempatkan untuk jalan2 refreshing dahulu di sana. Dan direncanakan untuk berangkat survey ke lokasi mata air hangat saat di rumah kang Kecrek saja.

Survey awal potensi geothermal pd mata air hangat yang mengandung belerang (lokasinya di desa Narimbang, tak jauh dari rumah kang Kecrek) dilakukan tidak seperti teori dibuku2, melainkan hanya sebatas survey pendahuluan yg singkat sekali. Uniknya pada mata air hangat tersebut di kelilingi area persawahan penduduk. Bahkan tak jauh dari lokasi (sekitar 30m) juga terdapat mata air biasa. Survei dilakukan (oleh Asri dkk) dengan hanya mengambil sample air, sample batuannya, temperature dan dokumentasi lokasi both mata air hangat & mata air biasa. Terpikir oleh kami, alat thermograph bisa digunakan di kemudian hari, juga instrument geolistrik bisa. Setidaknya kami bisa membuat semacam laporan awal sebagai rekomendasi penelitian lebih lanjut nantinya.

Alhasil, semua jobdes telah kami lakukan semaksimal mungkin. Segera kami kembali pulang menuju kampus, membawa data & sample untuk dianalisis di laboratorium yang kemudian dilaporkan pada Kuliah Umum *ala KHAUF* 1 bulan kemudian. Dan hari itu pun akhirnya tiba. Pemateri yg diundang ialah Pa Isya ND (pakar pusat vulkanologi & mitigasi bencana geologi) & Ibu Utari (dosen Fisika UPI). Sayang sekali sy & Seblak tidak dapat menghadiri acara tersebut karna pada saat itu kami sedang melakukan survey di sungai Mahakam, biarlah catatan perjalanan menjadi saksi atas secuil petualangan di muka bumi…Viva KHAUF!—Jhappy endingJ

-up to date-

investigasi-di-terowongan-kawah-tampomas