Bermula pada misi almamater organisasi, untuk memperbanyak jam terbang para anggotanya, berpetualang mendaki gunung sambil belajar memahami beberapa fenomena ilmiah warna-warni bumi kita. 1 tahun sebelumnya sy & kawan2 pernah ke sana merayakan munggahan puasa di puncak gunung tampomas. Seingat sy dulu, pendakian tampomas sangat menarik. Di kaki gunung terdapat bumi perkemahan dengan curugnya yang indah, jalur pendakian di dekat puncak dikelilingi tumpukan bebatuan yang diselingi lembabnya pepohonan & semak-belukar rimba, serta uniknya lagi terdapat rekahan sedalam sekitar 8-10m & selebar +/- 2m yang memanjang di puncak gunung yang masih liar belum terjamah *mungkin skitar 150-an meter ya..i guessing*. Apalagi di puncak juga terdapat semacam makam yg dipercaya penduduk setempat ialah makam Prabu Siliwangi?, yg menjadikan Tampomas jg merupakan tempat ziarah yg cukup popular.

 

Alhasil 1 tahun berlalu. Rapat yang dipimpin oleh pa Hidayat *ketum saat itu* memutuskan u/ melakukan ekspedisi pendakian ke puncak gunung Tampomas, Sumedang-Jawa Barat. Dan juga dilakukanlah semacam ekspedisi sains yang dalam hal ini kami batasi pada: investigasi & identifikasi batuan rekahan, pengukuran parameter cuaca selama pendakian, serta survey awal potensi geothermal (mata air hangat) di kaki gunung. Hemat sy & kawan2, teknis & analisis sainsnya sepertinya bakalan ribet, tetapi yang namanya belajar jelas semua ada awal+prosesnya…jadi, maju terusss!.

 

Seperti biasa, persiapan pun dilakukan sekitar 1 bulan sebelum keberangkatan. Mulai dari schedule acara, donatur, alat2 survey, latihan fisik, survey awal team, akomodasi-konsumsi dan tetek-bengek lainnya. Anggota team yang berminat ikut serta relatif banyak. Saya memilih masuk team akuisisi parameter cuaca *waktu itu sidang TA sy udah, tp lom wisuda*, soalnya cukup ‘nyante tp pasti’ J itung2 refreshing pasca sidangTA..he..he..he. Minggu2 berlalu, tak terasa sudah semakin dekat hari H. Team survey awal, Akaw & si Zebod & si Mbok, telah melaporkan kondisi update tampomas, kawan2 team peralatan sudah mulai mengumpulkan apa yang harus dibwa nanti, dan saya sendiri bersama rekan team (Dini, Asri, Echi & Sindy *lho..ko ce semua ya*) masih sibuk belajar & ngumpulin semua referensi yg berkaitan dengan parameter cuaca biar cepet nyambungnya saat akuisisi nanti. Rencananya pada pengukuran parameter nanti akan digunakan thermograph, namun dibatalkan karena alasan teknis. Sehingga yang dibawa hanyalah: Altimeter, Thermometer celcius biasa, Portable (barometer-thermometer-hygrometer) digital & Portable Hygrometer berputar *entah apa namanya sy lupa*.

 

Hari telah tiba. Didepan kampus digelar acara keberangkatan team ekspedisi. Sy menggunakan atribut lapangan lengkap ala gue (Daipek 45L, matras, sleepingbag, celana lapangan, syal biru, bandana merah, sendal gunung & baju lapangan warna merah kesukaan…haha). Perjalanan dimulai, alhasil, kami telah tiba di kaki gunung. Kala itu sore2 adanya. Kami memutuskan bermalam di salah satu rumah penduduk, kang Kecrek namanya, sesepuh karang taruna, orang yg baik hati juga ramah & senang sekali bercanda. Penggalian informasi sejarah Tampomas, salah satu agenda acara, kami tanyakan kepada beliau. Sementara saat itu sy dkk sendiri segera starting pengukuran di kaki gunung, mengisi rancangan worksheet & koordinasi team saat pengukuran kedepannya.

 

Yang namanya barudak khauf, sejak sy bergabung 4 tahun yang lalu, senang sekali heurei & solid pastinya. Itu yg membuat sy tidak merasa kesepian merantau di Bandung. Kawan2 sudah seperti sodara sendiri. Pada ekspedisi kali ini tentunya rame, candaan, capek, senang, manja, ada yg ngambek, bercampur baur mengisi catatan cerita. Sebutlah si anu yg maunya bawa yg ringan2…hahaha, asyik ya ngelihat & ngladeninya J.   

 

Pendakian dimulai, jam meunjukkan pukul 13.30 WIB, kang Kecrek ikut. Untuk kegiatan pengukuran parameter cuaca, sy & dini rancang setiap 1 jam perjalanan. Diasumsikan dengan kec pendakian & kemiringan jalur konstan, cukup mewakili tiap2 ketinggian *tak diduga sebelumnya, ternyata altimeternya rusak, sedang GPS ga dapet pinjeman*.

 

Anyway..saat ‘senja’ mengufuk di Barat, Team bermalam di lereng *shelter X*. Kebetulan tempatnya strategis, ada sumber air disana. Dan dengan landscape sinar2 lampu kota sumedang di kejauhan serta diselingi aroma pepohonan pinus yg menggoda, terdapat saung kecil disana, lumayan buat santai2 sambil menyalakan perapian malam.

 

Untuk tidur sy bawa tenda domme pribadi, jadi lebih leluasa, tinggal ajak partner satu, jadi lebih hangat suasana, yeah. Tapi sebelum beristirahat..makan dulu ala PA yangmana team konsumsi berperan dalam hal ini. Untuk kawan2 team investigasi rekahan (Seblak dkk), terlihat capeknya, mungkin karena carrier yg berat berisi peralatan panjat untuk menuruni rekahan nanti, maklum alatnya cukup banyak, biar safety *padahal praktiknya belum tuh..hehehe*. Sebelum tidur juga kami lakukan pengukuran kec.gravitasi “bandul sederhana” berikut pengukuran nilai temperatur lingkungan akibat panas api unggun sebagai fungsi jarak *Ceileh…gaya*.

 

Bersambung ke…  Catatan perjalanan: Ekspedisi Tampomas KHAUF (part.2)