Pekerjaan/operasi *akuisisi* seismik di laut (offshore/marine) ‘secara teknis’ cukup sederhana.
Kapal tinggal menarik source-receiver dkk menyusuri area target atau tempat yang direncanakan. Dengan kecepatan konstan (ex: 3-4 kts), kapal dapat menyusuri line/track sejauh puluhan km hanya dalam hitungan jam saja.
Source controller
Source controller bertanggung jawab melakukan pengawasan atas shot selama operasi dilakukan, misalnya untuk start the airgun, online controlling (seperti: NFH – near field hydrophone, DT – depth transducer), sensor return, dll. Source controller harus bisa dan tahu akan problem yang mungkin dan terjadi dalam suatu shot, yg diantaranya berupa Air leak, Bad sensor return, Bad NHF, dll. Dalam source controll, kita juga akan mengenal apa yg disebut SSE (Source Signature Estimation ato Far field signature).
Airgun dkk
Airgun (source) diletakkan pada kedalaman tertentu, bisa single gun atau multigun. Sebagai contoh, pada multigun, terdapat 8 gun per-subarray (2 clutster per subarray), dengan 2-3 subarray per sidenya. Jadi total Port Side dan Starboard Side adalah berjumlah 48 Guns (…semua bergantung pd kontrak). Airguns diledakkan secara bersamaan dengan distance events tertentu (ex: tiap 25m), dengan maintain pressure 2000psi (+/- 10%). Shots yg tdk bagus diantaranya: Timing error (jika satu gun terlambat meledak), Misfire (gun tidak meledak) & Auto fire (guns meledak tak beraturan).
Streamer dkk
Hydrophone2 (multichannel) terdapat didalam streamer/kabel yang ditarik kapal. Kabel ini bisa sepanjang 6km hingga 12km. Dan jumlahnya adalah *biasanya* 8-10 streamer (normal set up untuk North Sea & West Africa). Streamer terbagi2 atas section. Didalam section berisi hydrophone2 yang berjarak misalnya 12.5m atau 25m, satu dengan lainnya.
Separation section dkk
Separation section bisa 100m, kemudian bisa 200m, tergantung kontrak. Untuk high resolution seismic (dengan kabel sepanjang 2,5km), separation bahkan bisa ditekan hingga 25m. untuk mengetahui ketepatan separation diletakkan alat Sonardyne/Pingger pada front-end, mid-streamer & far-end.
Bubble dkk
Setiap 2 sections diletakkan Bubble atau Module, untuk merubah sinyal analog dari hydrophone menjadi digital.
Bird dkk
Setiap 3 sections diletakkan Bird, untuk membuat kabel bisa berada pada kedalaman yg kita inginkan, misalnya 6m untuk daerah Asia, 7m untuk daerah North sea, dlll. Kedalaman kabel diatur bergantung pada frekuensi berapa yg kita harapkan supaya bisa merekam sinyal seismic & korelasinya dengan depth target record.
Tailbuoy & Frontbuoy dkk
Pada akhir streamer, diletakkan Active Tailbuoy (ada yang passive), yg dilengkapi dengan perangkat lunak untuk menerima sinyal satelit (GPSreceiver-Seatrack *setidaknya harus ada 4 satelit yang terlihat*). Sedang pada bagian front end streamer terkadang diletakkan juga Active Frontbuoy.
Etc…
Seperti: Pita perekam 3490E dengan format tertentu sebagai media perekam sinyal seismic (Standardisasi format dilakukan oleh Society of Exploration Geophysics, SEG, diantaranya SEG-A, SEG-B, SEG-C, SEG-D & SEG-Y) ; Seismograf Geometric Strataview tipe-R sebagai pemindai dan perekam sinyal ; Active deflector sebagai streamer in-out controller dengan prinsip kerja persis seperti sayap pesawat terbang yangmana bisa kita kendalikan ; komputer Marine Controller Geometrics sebagai kendali & pemicu perekaman ; Fold Optimalization ; Sail line azimuth ; Filter Delay ; … dan perangkat instrument lain sebagainya. (Referensi: Disarikan dari berbagai sumber)
baca juga: Marine seismic V.S Land seismic

















5 comments
Comments feed for this article
September 2, 2008 pada 1:45 pm
Pencari Kebenaran
memang akuisisi utk laut memang sederhana dibanding land acquisiton, tetapi processingnya akan memakan waktu yang cukup banyak karena multiple dan noise2 pada data marine seismic lebih banyak dari land seismic..Untuk mengatasi hal itu susunan array utk hydrophone harus lebih bagus agar multiple dan noise dapat ditekan..walaupun noise dan multiple pada data marine tetap masih ada..
Sekarang untuk daerah marine telah dikenalkan OBC yaitu Ocean Bootom Seismic. Saya rasa anda pasti tau…
regard
September 2, 2008 pada 4:51 pm
asyafe
Iya..sepakat mas, kuncinya pas akuisisi …*dan ‘menyeum2′ orang processing juga harus hade, kudu maen intuisi nentuin parameternya*
hehe…* dari yg masih sedang belajar*
September 5, 2008 pada 9:16 am
Bahar
Aslm
Ane numpang naya ya … untuk 3D marine seismic, nentuin spacing interval antar sail line apa dasarnya ya? berapa jarak minimal agar fulfold-nya penuh.
thx
ABMH
sedang belajar juga
September 5, 2008 pada 11:24 am
asyafe
Wslm
Gileee..3D nih, keren..keren
Walah..mohon maaf ane juga ga tau nih Bang Bahar!, mungkin dari yang laen, yg lebih senior, hihi
Hmmm..apa ya??!!!!! *ingin taunya kambuh lagi*
September 8, 2008 pada 10:19 am
asyafe
hohohoo…Bang Bahar, sy udah punya jawabannya nih
*dapet dari Mas Agus*.
Jarak minimalnya sail line = (N x I)/2
dimana N adalah jumlah streamer, I adalah interval antara streamer. Jadi kalau kita punya survey 3D dengan jumlah streamer 8 dan interval streamernya 100m maka Jarak minimal sai line adalah (8 x 100) /2 = 400m.
Ps; buat mas Agus, terimakasih ya!